شكرا على نزولكم و حضوركم في هذا الموقع

Rabu, 27 Oktober 2010

FIELD NOTE KKN CERIA 2010

KEBUDAYAAN-KEBUDAYAAN DI DESA NGADIREJO
1. Pinarak dan Melepas Sandal Ketika Bertamu

Setiap masyarakat pasti mempunyai kebudayaan dan adat istiadat, namun tidak semua kebudayaan itu unik untuk dikaji dan di lestarikan, yang bisa membuat orang yang melihat dan mengkajinya akan merasa takjub dan tertarik nutuk mengkajinya lebih dalam atau paling tidak menjadi legenda indah untuk selalu dikenang dan dibanggakan.
Salah satu desa yang memiliki banyak kebudayaan dan keunikan adalah desa Ngadirejo, desa ini terletak di kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan, letak geografis yang berada di pegunungan serta pepohonan yang masih alami membuat desa ini memiliki udara yang sangat dingin.
Desa ini memiliki budaya yang sangat mulia dan menarik untuk diketahui, salah satunya adalah budaya pinarak. Budaya pinarak adalah mempersilakan orang lain untuk bertamu atau berkenjung kerumah orang yang mengundangnya, walaupun hanya sekedar menikmati secangkir kopi dan makanan ringan, itu merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi pemilik rumah, jika orang yang diajak pinarak atau berkunjung kerumahnya mau memenuhi undangannya.
Islam adalah agama yang sangat sempurna, agama yang sangat menganjurkan untuk memuliakan tamu, bahkan memuliakan tamu digandengkan dengan beriman kepada Allah dan hari kiamat. Rasulullah bersabda :

فمن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فاليكرم ضيفه

Artinya : barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat maka hendaklah dia memuliakan tamunya.
Masyarakat desa Ngadirejo terkenal dengan keramahannya, mereka selalu memasang senyum diwajah mereka, ketika bertemu dengan orang lain, ketika ada pendatang dari daerah lain dan mengucapkan “mari” atau “monggoo” mereka serta merta akan membalas dengan senyum dan membalasnya, jika mereka berada di depan rumah mereka, mereka akan mengucapkan kan “bade teng pundi?” pinaraak! Dan jika di ladang atau di jalan mereka akan akan mempersilahkan untuk mampir atau berkunjung kerumahnya.
Kebanyakan orang yang tidak mengetahui adat atau budaya yang ada di desa ini, ketika mereka berkunjung ke rumah salah satu warga di desa ini mereka akan melepas sandal atau sepatu ketika melihat rumah yang dikunjunginya bersih dan berlantai kramik atau yang sejenisnya, ternyata ketika kita masuk dan melepas sandal kita dan tuan rumah mengetahuinya, mereka seakan kecewa dan menyuruh untuk memakainya, dan jika sang tamu sudah duduk di ruang tamu tuan rumah akan mengambil sandal atau sepatu dan menaruhnya di hadapannya agar tamunya memakainya, seraya mengatakan “dipakai aja mas lantainya dingin!”. Ada yang mengatakan bahwa rumah bukanlah masjid yang harus melepas sandal ketika masuk masjid. Setelah seorang tamu duduk selang beberapa waktu tuan rumah akan mengeluarkan secangkir teh atau secangkir kopi, di iringi dengan makanan ringan yang dihidangkan diatas piring. Kemudian mengobrol Sambil menikmati hidangan.
Yang lebih mengherankan lagi, jika ada orang yang bertamu dimalam hari, tuan rumah akan langsung mempersilahkan sang tamu kedapur, untuk menghangatkan diri di depan perapian, yang dihidangkan berbagai makanan ringan di atas perapian tersebut, setelah beberapa saat tuan rumah menyiapkan kopi kepada para tamu sambil menghangatkan badan.
Dikarenakan udara yang sangat dingin, mayoritas keluarga di desa Ngadirejo memiliki perapian disetiap rumahnya, selain dapat menghangatkan keluarga perapian disetiap rumah juga dapat memuliakan tamu yang kedinginan oleh udara malam.
Lebih lagi jika tuan rumah telah siap untuk menerima tamu, biasanya setelah seorang tamu dimanjakan dengan makanan ringan, secangkir kopi, dan hangatnya perapian, tuan rumah akan mempersilahkan tamu menuju meja makan yang telah siap dengan berbagai lauk pauk untuk menikmati makan malam. Dengan mengatakan “mas silahkan makan dulu nanti setelah makan bisa kembali ke perapian lagi” Dan hal yang lebih menakjubkan lagi, pendatang yang datang didesa ngadirejo akan dianggap sebagai pendatang meskipun sudah lama didesa ngadirejo bahkan sampai bertahun-tahun. Dalam artian perlakuan pinarak terhadap orang tersebut tetap berlangsung karena tamu bagi mereka tetaplah tamu.
Budaya pinarak ini merupakan budaya yang sangat mulia, karena seorang yang mempersilahkan untuk bertamu atau berkunjung kerumahnya tidak pernah memandang apakah dia kaya atau dia miskin, apakah dia agamanya sama atau tidak. Sehingga terjalinlah kerukunan diantara mereka dan seorang tamu akan merasa dihormati. Selain itu akan timbul dalam diri seorang tamu, rasa cinta dan hormat pada pemilik rumah. Maka benar sekali perkataan yang mengatakan “jika kamu ingin dihargai maka hargailah orang lain” Semoga budaya ini tetap dipertahankan dan dilestarikan oleh masyarakat desa ngadirejo dan tidak terpengaruh oleh budaya lain yang dapat mengikis bahkan menghapus budaya yang mulia ini.
2. Bahasa Jawa Tengger
Indonesia merupakan bangsa yang terkenal dengan keaneragaman budayanya, selain itu bangsa indonesia juga kaya akan bahasa yang tersebar dari sabang sampai merauke. Contohnya di desa Ngadirejo, di desa ini ketika kita memperhatikannya sepintas bahasa, yang mereka gunakan adalah bahasa jawa, tetapi setelah tinggal di desa ini kita kan mengetahui bahwa masyarakat desa Ngadirejo menggunakan bahasa jawa tengger. Bahasa jawa Tengger sebetulnya tidak berbeda jauh dengan bahasa jawa biasa. Bahasa jawa yang sering menggunakan huruf “O” dalam bahasa jawa tengger diganti dengan “A” diantara contohnya adalah sebagai berikut:
No. Bahasa indonesia Bahasa jawa Bahasa jawa tengger
1. Membawa Nggowo Nggawa
2. Kesana Rono Rana
3. Kenapa Ngopo Ngapa/kenapa
4. Di sana Neng kono Neng kana
5. Kesana Mrono Mrana
6. Bisa Iso Isa
7. Carilah Golek ono Golek ana

Selain perbedaan huruf ada sedikit perbedaaan kosa kata yang ada pada bahasa jawa tengger dengan bahasa jawa diantara contohnya
No. Bahasa indonesia Bahasa jawa Bahasa jawa tengger
1. Kandang sapi Kandang sapi Golekan sapi
2. Apa Opo Paran

Perbedaan juda ada pada logat yang digunakan bahasa wa terkenal dengan medoknya akan tetapi bahasa jawa tengger sering sekali menggunakan kata “wes”. Misalnya ketika seorang mengajak temannya ke pengajian, orang itu akan mengatakan ”ayo kita ke pengajian!” temannya menjawab “kemana?” orang tadi mengatakan “wes ikut wes” dalam bahasa jawa tenggernya “oyo melu pengajian!” temannya menjawab “nek ndi?” orang itu mengatakan “wes melu wes” dan masih banyak lagi contoh yang lainnya.
3. Gedokan Sapi
Bukan hal yang tabu jika warga desa memiliki sapi yang dipelihara untuk menopang perekonomian juga sebagai tabungan dimasa depan. Selain itu memelihara sapi merupakan salah satu persiapan dan penghematan yang dilakukan oleh masyarakat desa untuk mengadakan acara yang besar seperti pernikahan atau yang lainnya. ketika mengadakan pesta pernikahan atau yang lainnya, keluarga tersebut dapat langsung menyembelihnya tanpa harus membuka dompet untuk membeli sapi.
Memelihara sapi pasti membutuhkan kandang atau tempat kusus untuk menempatkan sapi tersebut. Kebanyakan kandang sapi diletakan di belakang rumah agar bau dari kotoran sapi tidak mengganggu kenyamanan rumah. Di desa Ngadirejo kandang sapi disebut dengan Gedokan sapi, selain nama yang berbeda dengan bahasa jawa umumnya, kandang sapi yang ada di desa Ngadirejo gedokan sapi diletaakkan di tengah ladang oleh pemiliknya, jauh dari lingkungan rumah. Jaraknya bisa mencapai satu kilo dari rumahnya, bahkan ada yang berjarak sampai empat kilo dari rumahnya.
Dari informasi yang didapatkan dari seorang petani bernama pak rasio yang berumur 50 tahun, pemilik salah satu kandang sapi di tengah ladang, alasan dia menaruhnya di ladang adalah untuk lebih memudahkan bagi sang pemili untuk memberikannya rumput dan memudahkan pengambilan kotoran sapi yang digunakan sebagai pupuk untuk pertanian. Sedangkan alasan yang lain dari pak sugiano, yang juga pemilik kandang sapi mengatakan bahwa dengan menaruh kandang sapi dirumah tentunya akan menjaga kebersihan lingkungan rumah.
Ketika kami bertanya tentang kehawatiran terjadinya pencurian, pak Daseri yang berumur 39 tahun mengatakan bahwa beliau tidak menghawatirkan tentang pencurian sapi diladang, karena memang desa Ngadirejo sangat aman, bahkan katanya tidak pernah sama sekali terjadi pencurian sapi ditempatnya walaupun sapinya sangat jauh dari rumahnya.
4. Persil
Pernikahan merupakan suatu upacara yang suci dan sakral bagi setiap insan, karena pernikahan adalah awal kehidupan bagi setiap orang yang telah siap untuk memulai hidup baru dan berumah tangga. Disetiap daerah memiliki tata cara pernikahan yang berbeda-beda salah satunya di desa Ngadirejo, di desa ini ada acara pernikahan yang dinamakan persil. Persil adalah arakan atau konfoi sepeda motor yang dilakukan oleh mempelai laki-laki menuju rumah mempelai perempuan.
Acara persil dilakukan jika mempelai laki-laki berada di desa Ngadirejo atau sekitarnya akan tetapi jika mempelai laki-laki mendapatkan istri yang berasal dari luar daerah Ngadirejo, acara akan dilakukan dengan memakai mobil.
5. Rabu Wage
Kepercayaan atau Keyakinan yang telah mendarah daging di masyarakat sangat sulit untuk dihilangkan, apalagi bila keyakinan tersebut didukung dengan fakta konkrit yang mendukungnya. Salah satu kepercayaan yang masih berjalan dikalangan warga hindu di desa Ngadirejo adalah keyakinan tentang lahirnya anak laki-laki pada hari rabu wage.
Bagi masyarakat hindu rabu wage merupakan hari yang berbeda dengan hari yang lainnya. Sampai-sampai jika ada seorang wanita yang melahirkan pada hari tersebut, dan anaknya laki-laki mereka memiliki kepercayaan bahwa anak yang lahir pada hari tersebut nakal dan salah satu solusi yang diberikan adalah memerintahkan agar anaknya di pakaikan anting-anting di telinga kirinya, supaya anaknya tidak nakal. Keyakinan ini sangat bertentangan dengan asumsi yang mengatakan bahwa anak laki-laki yang memakai anting-anting merupakan anak yang ugal-ugalan atau bahkan disebut preman.
6. Jumat Legi
Kematian adalah suatu hal yang pasti bagi manusia di dunia ini. Ada sebagian manusia yang Allah beri umur panjang dan sebagian lagi Allah matikan ketika ia baru lahir. Banyak sekali kepecayaan dan keyakinan yang masih melekat di masyarakat, khususnya masyarakat desa.
Seorang yang telah mati tentulah tidak akan bisa memberi manfaat maupun madhorot bagi mereka yang masih hidup, tapi anehnya orang yang meninggal pada hari jumat legi dipercaya tanah kuburannya akan memberi manfaat atau barokah. Sampai-sampai salah seorang warga yang bernama pak kusnadi mengatakan jika ada orang yang meninggal pada hari tersebut, tanahnya akan habis dan yang mengambilnya adalah para dukun atau paranormal.

Tidak ada komentar: